Assalamu’alaikum wr.wb
Shahabat saya yang terkasih. Semoga setelah kita menghabis masa libur bersama keluarga, teman, dan shahabat. Allah berikan kepada kita kekuatan yang lebih besar, dari peristirahatan kita kemarin. Sehingga kita menjadi pribadi yang lebih kuat dan prima hari ini. Untuk membangun tangga-tangga sejarah, menuju impian yang kita idamkan.
Tiga hari yang lalu, saya berdiskusi dengan seorang teman. Dari pembicaraan itu, ada hal yang membuat saya bertanya-tanya”How can it be”. Teman saya menyampaikan, ”terkadang ada saat nya, kami menangis dan tertawa tanpa alasan yang jelas. Karena dengan menangis itu sendiri, bisa membuat masalah lebih mereda”.
Sungguh kondisi itu, membuat saya penasaran. Bagaimana bisa air mata jatuh tanpa alasan yang jelas, hanya kepingin saja. Mungkin itu pernah anda alami. Saya tidak tau bagaimana itu bisa. Tapi, terkadang itu terjadi kepada siapa saja. Sehingga untuk memahami kondisi ini. Saya berusaha untuk mengalami apa yang disampaikan oleh teman saya.
Kemudian, saya lakukan salah satu tehnik yang dibahas di Mind-Design Therapy. Yaitu untuk memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Dengan tehnik ini pula, seolah-olah kita bisa tau apa yang difikirkan orang lain. Benar saja, tiba-tiba saya seperti mau menangis, mata saya berkaca-kaca.
Sementara itu, Saya mencoba bertanya kepada diri untuk memahami, bagaimana ini bisa terjadi? Entah bagaimana, saya jadi teringat pesan guru saya di Ponpes NLP Pasar Minggu. ”Jika kamu pernah bertanya kepada dirimu, bagaimana ini bisa terjadi? Itu menandakan, bahwa kamu tidak SADAR akan dirimu sendiri”.Lalu, saya praktekkan latihan KESADARAN, antara keberadaan tubuh, fikiran dan perasaan yang timbul tenggelam dalam diri saya.
Akhirnya saya pun menyadari, apa yang terjadi pada diri saya.Menangis tanpa sebab yang jelas, karena adanya keHAMPAan dan KEKOSONGAN diri. Lebih dalam lagi saya menggali, kehampaan ini muncul karena memikirkan sesuatu yang diinginkan, namun belum terjadi. Tapi, bila kita mau jujur kepada diri sendiri, sebenarnya hal itu belum terjadi, karena kita belum melakukannya. Ketidakmampuan untuk melakukan ini, bisa dikarenakan faktor intenal dan faktor ekternal. Faktor internal karena belum berani, malu atau mungkin karena tanpa ada alasan yang jelas. Sementara, faktor external mungkin bisa disebabkan oleh banyak hal. Tapi, kondisi yang saya dapatkan saat itu, karena faktor harapan, dan mempertimbangkan akan orang terdekat, yaitu keluarga.
Selain itu juga, ada fikiran yang muncul. Seandainya apa yang saya inginkan sudah terjadi, mungkin tidak seperti ini yang saya rasakan. Bahkan ada yang lebih ekstrim, muncul pemikiran ; buat apa lagi aku hidup, lebih baik aku mati.
Kembali dengan pertanyaan diatas, bagaimana ini bisa terjadi? Setelah saya menemukan apa sebenarnya yang difikirkan dan dirasakan. Sebagai Mind-Therapist, saya mencoba memikirkan, solusi apa yang dapat saya berikan.
Barangkali, shahabat yang baik. Juga pernah mengalami kondisi seperti diatas. Entah itu ingin menangis tanpa alasan yang jelas, atau mungkin duduk terdiam tidak tau mengapa. Bisa jadi mungkin bahkan hal lain. Namun, jika ditelusuri fikiran dan persaan anda, seperti yang telah saya sebutkan diatas. Anda boleh melakukan cara-cara ini sekarang. Saya yakin, percaya dan sadar. Cara ini, belum tentu tepat untuk semua orang. Tapi, kita tidak pernah tau sebelum mencoba melakukannya.
1. Ambillah posisi duduk yang nyaman dan tenang serta aman menurut anda.
2. Berdoa sesuai dengan keyakinan anda. Dengan harapan, agar apa yang anda fikirkan dan rasakan sekarang, segera bisa kembali sebagaimana biasanya.
3. Anda boleh melakukan ini sambil memejamkan mata anda atau sembil menutup mata.
4. Tarik nafas yang dalam, kemudian tahan sejenak dan hembuskan. Lakukan sebanyak 7 kali.
5. Sadari keberadaan tubuh, dari rambut, sampai keujung kaki. Bila anda belum terbiasa, boleh gunakan tangan untuk membantu. Dengan mengusap seluruh tubuh...
6. Sambil anda menyadari keberadaan tubuh. Pusatkan fikiran dan perasaan anda kepada anggota tubuh yang anda usap/sentuh. Hadirkan kesyukuran, fikirkan itu.
7. Kemudian rasakan syukur itu, perbesar rasa syukur. Boleh sambil berlafadz, Alhamdulillah. (Saat memperbesar rasa syukur ini, anda boleh perlambat usapan tangan anda pada tubuh, agar bentuk dan rasa syukurnya lebih mengena.)
Bisa jadi, pada saat rasa syukur diperbesar. Anda akan menangis, atau ingin sujud syukur, atau bahkan melihat semacam ada cahaya putih. Ikuti saja keinginan dan nikmati saja kondisi itu.
8. Berdoalah kepada Allah. Mohon untuk diberikan solusi dari masalah-masalah anda. Mohon agar apa yang anda cita-citakan / inginkan, segera diwujudkan dan dikabulkan oleh Allah.
9. Buka mata anda, ucapkan Alhamdulillah dengan penuh rasa syukur yang dalam. Sambil tersenyum.
Shahabat yang terkasih. Bisa jadi hal-hal yang kita anggap itu lebih baik bagi kita, mungkin saja belum tentu baik bagi Allah. Terkadang kita menganggap, jika yang kita mau itu tercapai, maka akan membuat kita lebih bahagia. Tapi, beberapa moment sudah kita lewati, itu akan menjadi biasa saja setelah tergapai, karena kita membuat perbandingan baru yang lebih besar.
Jika ada rasa khawatir dan belum muncul keberanian dalam tindakan, mungkin bisa membaca artikel saya sebelumnya tentang (Khawatir ; cara menjemput ajal dengan perlahan-lahan).
Selamat mempraktekkan dan semoga bermanfaat. Jika anda mendapat hasil dan cara ini efektif bagi anda. Sampaikan / sharekan kepada teman-teman dan shahabat yang membutuhkan. Note ini sangat diizinkan untuk di Copy paste...
Bogor 15 Februari 2010
Rahmadsyah,CM. NLP
Trainer & Mind-Therapist I 081511448147 I YM ; rahmad_aceh
www.rahmadsyahnlp. blogspot. com I www.facebook. com/rahmadsyah
Selengkapnya...
Rabu, 17 Februari 2010
Terapi ; Hampa dan Kekosongan Diri
Selasa, 16 Februari 2010
Sistem Ekonomi Islam Anti Krisis (Meskipun Pernah Mengalami Krisis Sebentar)
Assalamu’alaikum mas kemarin saya baca di eramuslim ternyata sistem ekonomi Islam tidak kebal krisis, buktinya pernah mengalami krisis ekonomi pada masa umar bin al khatab.
Jawab:
Wa’alaykumus salam wr. wb.
Begini mas, meskipun pernah mengalami krisis, namun disebabkan bukan karena sistem ekonominya yang lemah, melainkan faktor non sistem. Dr Ahmad bin Jaribah Al Haritsi dalam bukunya yang berjudul Fikih Ekonomi Umar bin Khathab menjelaskan ada beberapa sebab, diantaranya:
Sebab materi:
1.Terhentinya air, disebabkan terhentinya turun hujan, akhirnya berdampak terhadap kegiatan pertanian
2.munculya wabah pes di negeri syam, berdampak terhadap kegiatan perdagangan bangsa Arab.
3.Sibuknya kaum Muslim dalam melakukan aktivitas jihad. Dsb.
Sebab maknawi:
Diantaranya, lumayan banyaknya kaum muslim yang melakukan kemaksiatan.
Jadi krisis tersebut diakibatkan bukan karena lemahnya sistem,melainkan karena kondisional, itupun berlangsung dengan sangat cepat dan mudah diatasi. Hal ini berbeda dengan krisis yang dialami oleh sistem-sistem selai Islam, yang disebabkan oleh bobroknya sistem tersebut. Sistem buatan Dzat yang maha Pencipta tidak mungkin ada kelemahan. Jadi jelas bahwa ekonomi syariah adalah ekonomi anti krisis!. Wallahu a’lam bi ash-shawab.
Jazakallah khoir.
sumber : kajian umum online
http://viand.dagdigdug.com/2010/02/15/sistem-ekonomi-islam-anti-krisis-meskipun-pernah-mengalami-krisis-sebentar/
Selengkapnya...
Senin, 15 Februari 2010
Islam, Pluralitas dan Pluralisme
Islam menaungi puralitas tapi jelas tidak mendukung pluralisme. Rosul mengajarkan tetap menjalin hubungan baik dalam kehidupan sosial tetapi wajib eksklusif dalam aqidah.
Para pendukung sipilis (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme) tampak bahwa mereka adalah kelompok yang selalu berada pada garda terdepan dalam penyesatan seperti dalam kasus Ahmadiyah.
Selengkapnya...
Minggu, 14 Februari 2010
Istilah Salah Kaprah Di dalam Agama
Berikut ini adalah sederet istilah SALAH KAPRAH di sekitar kita. Semuanya khas Indonesia, tapi kurang tepat secara Islam.
IBADAH ITU TIDAK BOLEH PAMRIH
Sebenarnya, dalam Islam tidak ada istilah ini. Karena kita memang boleh dan harus pamrih (berharap) kepada Allah. Setidaknya, pamrih (berharap) akan ridha-Nya. Nah, yang dilarang itu pamrih kepada manusia.
SEDEKAH ITU ALAKADARNYA SAJA
Tidak ada satu dalil pun menunjukkan begitu. Yap, ini cuma istilah khas Indoenesia.
PERNIKAHAN ITU JANJI SEHIDUP-SEMATI
Juga tidak ada istilah ini dalam Islam. Karena ketika salah satu murtad atau tidak memenuhi kewajiban sampai waktu tertentu, maka keduanya boleh bercerai (walaupun ini merupakan pilihan terakhir dan dibenci oleh Allah). Anda bayangkan, seorang suami yang tidak menafkahi istrinya, memukuli istrinya, dan mengasari istrinya selama bertahun-tahun. Terus, si suami sudah dinasihati dan tidak mau berubah. Apa pernikahan ini mesti dipertahankan sehidup-semati?
TUHAN ITU BERADA DI DALAM SURGA
Ini juga salah kaprah. Tidak ada dalilnya sama sekali. Karena Allah itu lebih mulia dan lebih besar daripada surga. Juga Allah tidak butuh surga. Lha surga itu ’kan cuma salah satu ciptaan-Nya. Bayangkan, Anda berada di dalam rumah. Itu berarti, Anda lebih kecil daripada rumah. Kalau Allah itu berada di dalam surga, berarti Allah itu lebih kecil daripada surga. Jelas, ini salah kaprah. Istilah ini diajarkan oleh agama lain, tapi tidak pernah diajarkan oleh Islam.
Mari sama-sama kita perbaiki. Sip?
Ippho Santosa
Entrepreneur, Penulis Mega-Bestseller & Penerima MURI Award
Selengkapnya...
Selasa, 09 Februari 2010
MITOS VALENTINE DAY
14 Februari, adalah tanggal yang telah lekat dengan kehidupan muda-mudi kita. Hari yang lazim disebut Valentine Day ini, konon adalah momen berbagi, mencurahkan segenap kasih sayang kepada “pasangan”-nya masing-masing dengan memberi hadiah berupa coklat, permen, mawar, dan lainnya. Seakan tak terkecuali, remaja Islam pun turut larut dalam ritus tahunan ini, meski tak pernah tahu bagaimana akar sejarah perayaan ini bermula.
Sesungguhnya Allah Subahanahu wa Ta’ala telah memilih Islam sebagai agama bagi kita, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ اْلإِسْلاَمُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)
Allah Subahanahu wa Ta’ala juga menyatakan bahwa Dia tidak menerima dari seorang pun agama selain Islam. Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak ada seorangpun yang mendengar tentang aku, baik dia Yahudi atau Nasrani, lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan risalah yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.”
Semua agama yang ada di masa ini –selain Islam– adalah agama yang batil. Tidak bisa menjadi (jalan) pendekatan kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala. Bahkan bagi seorang hamba, agama-agama itu tidaklah menambah kecuali kejauhan dari-Nya, sesuai dengan kesesatan yang ada padanya.
Telah lama, tersebar suatu fenomena –yang menyedihkan– di kalangan banyak pemuda-pemudi Islam. Fenomena ini merupakan bentuk nyata sikap taqlid (membebek) terhadap kaum Nasrani, yaitu Hari Kasih Sayang (Valentine Day). Berikut ini secara ringkas akan dipaparkan asal-muasal perayaan tersebut, perkembangannya, tujuan serta bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapinya.
Asal Muasal
Perayaan ini termasuk salah satu hari raya bangsa Romawi paganis (penyembah berhala), di mana penyembahan berhala adalah agama mereka semenjak lebih dari 17 abad silam. Perayaan ini merupakan ungkapan –dalam agama paganis Romawi– kecintaan terhadap sesembahan mereka.
Perayaan ini memiliki akar sejarah berupa beberapa kisah yang turun-temurun pada bangsa Romawi dan kaum Nasrani pewaris mereka. Kisah yang paling masyhur tentang asal-muasalnya adalah bahwa bangsa Romawi dahulu meyakini bahwa Romulus –pendiri kota Roma– disusui oleh seekor serigala betina, sehingga serigala itu memberinya kekuatan fisik dan kecerdasan pikiran. Bangsa Romawi memperingati peristiwa ini pada pertengahan bulan Februari setiap tahun dengan peringatan yang megah. Di antara ritualnya adalah menyembelih seekor anjing dan kambing betina, lalu dilumurkan darahnya kepada dua pemuda yang kuat fisiknya. Kemudian keduanya mencuci darah itu dengan susu. Setelah itu dimulailah pawai besar dengan kedua pemuda tadi di depan rombongan. Keduanya membawa dua potong kulit yang mereka gunakan untuk melumuri segala sesuatu yang mereka jumpai. Para wanita Romawi sengaja menghadap kepada lumuran itu dengan senang hati, karena meyakini dengan itu mereka akan dikaruniai kesuburan dan melahirkan dengan mudah.
Apa Hubungan St. Valentine dengan Perayaan Ini?
Versi I: Disebutkan bahwa St. Valentine adalah seorang yang mati di Roma ketika disiksa oleh Kaisar Claudius sekitar tahun 296 M. Di tempat terbunuhnya di Roma, dibangun sebuah gereja pada tahun 350 M untuk mengenangnya.
Ketika bangsa Romawi memeluk Nasrani, mereka tetap memperingati Hari Kasih Sayang. Hanya saja mereka mengubahnya dari makna kecintaan kepada sesembahan mereka, kepada pemahaman lain yang mereka istilahkan sebagai martir kasih sayang, yakni St. Valentine, sang penyeru kasih sayang dan perdamaian, yang –menurut mereka– mati syahid pada jalan itu.
Di antara aqidah batil mereka pada hari tersebut, dituliskan nama-nama pemudi yang memasuki usia nikah pada selembar kertas kecil, lalu diletakkan pada talam di atas lemari buku. Lalu diundanglah para pemuda yang ingin menikah untuk mengambil salah satu kertas itu. Kemudian sang pemuda akan menemani si wanita pemilik nama yang tertulis di kertas (yang diambilnya) selama setahun. Keduanya saling menguji perilaku masing-masing, baru kemudian mereka menikah. Bila tidak cocok, mereka mengulangi hal yang serupa tahun mendatang.
Para pemuka agama Nasrani menentang sikap membebek ini, dan menganggapnya sebagai perusak akhlak para pemuda dan pemudi. Maka perayaan ini pun dilarang di Italia. Dan tidak diketahui kapan perayaan ini dihidupkan kembali.
Versi II: Bangsa Romawi di masa paganis dahulu merayakan sebuah hari raya yang disebut hari raya Lupercalia1. Ini adalah hari raya yang sama seperti pada kisah versi I di atas. Pada hari itu, mereka mempersembahkan qurban bagi sesembahan mereka selain Allah Subahanahu wa Ta’ala. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala itu mampu menjaga mereka dari keburukan dan menjaga binatang gembalaan mereka dari serigala.
Ketika bangsa Romawi memeluk agama Nasrani, dan Kaisar Claudius II berkuasa pada abad ketiga, dia melarang tentaranya menikah. Karena menikah akan menyibukkan mereka dari peperangan yang mereka jalani. Maka St. Valentine menentang peraturan ini, dan dia menikahkan tentara secara diam-diam. Kaisar lalu mengetahuinya dan memenjarakannya, sebelum kemudian dia dihukum mati.
Versi III: Kaisar Claudius II adalah penyembah berhala, sedangkan Valentine adalah penyeru agama Nasrani. Sang Kaisar berusaha mengeluarkannya dari agama Nasrani dan mengembalikannya kepada agama paganis Romawi. Namun Valentine tetap teguh memeluk agama Nasrani, dan dia dibunuh karenanya pada 14 Februari 270 M, malam hari raya paganis Romawi: Lupercalia.
Ketika bangsa Romawi memeluk Nasrani, mereka tetap melakukan perayaan paganis Lupercalia, hanya saja mereka mengaitkannya dengan hari terbunuhnya Valentine untuk mengenangnya.
Syi’ar Perayaan Hari Kasih Sayang
1. Menampakkan kegembiraan dan kesenangan.
2. Saling memberi mawar merah, sebagai ungkapan cinta, yang dalam budaya Romawi paganis merupakan bentuk cinta kepada sesembahan kepada selain Allah Subahanahu wa Ta’ala.
3. Menyebarkan kartu ucapan selamat hari raya tersebut. Pada sebagiannya terdapat gambar Cupid, seorang anak kecil dengan dua sayap membawa busur dan panah. Cupid adalah dewa cinta erotis dalam mitologi Romawi paganis. Maha Tinggi Allah dari kedustaan dan kesyirikan mereka dengan ketinggian yang besar.
4. Saling memberi ucapan kasih sayang, rindu, dan cinta dalam kartu ucapan yang saling mereka kirim.
5. Di banyak negeri Nasrani diadakan perayaan pada siang hari, dilanjutkan begadang sambil berdansa, bercampur baur lelaki dan perempuan.
Beberapa versi kisah yang disebutkan seputar perayaan ini dan simbolnya, St. Valentine, bisa memberikan pencerahan kepada orang berakal. Terlebih lagi seorang muslim yang mentauhidkan Allah Subahanahu wa Ta’ala. Pemaparan di atas menjelaskan hakikat perayaan ini kepada kaum muslimin yang tidak tahu dan tertipu, kemudian ikut merayakannya. Mereka hakikatnya meniru umat Nasrani yang sesat, dan mengambil segala yang datang dari Barat, Nasrani, lagi atheis.
Selengkapnya...
Delapan Tanda Orang Ikhlas
Ada delapan tanda-tanda keikhlasan yang bisa kita gunakan untuk mengecek apakah rasa ikhlas telah mengisi relung-relung hati kita. Kedelapan tanda itu adalah:
1. Keikhlasan hadir bila Anda takut akan popularitas.
2. Ikhlas ada saat Anda mengakui bahwa diri Anda punya banyak kekurangan.
Orang yang ikhlas selalu merasa dirinya memiliki banyak kekurangan. Ia merasa belum maksimal dalam menjalankan segala kewajiban yang dibebankan Allah swt. Karena itu ia tidak pernah merasa ujub dengan setiap kebaikan yang dikerjakannya. Sebaliknya, ia cemasi apa-apa yang dilakukannya tidak diterima Allah swt. karena itu ia kerap menangis.
3. Keikhlasan hadir ketika Anda lebih cenderung untuk menyembunyikan amal kebajikan.
Orang yang tulus adalah orang yang tidak ingin amal perbuatannya diketahui orang lain. Ibarat pohon, mereka lebih senang menjadi akar yang tertutup tanah tapi menghidupi keseluruhan pohon. Ibarat rumah, mereka pondasi yang berkalang tanah namun menopang keseluruhan bangunan.
4.Ikhlas ada saat Anda tak masalah ditempatkan sebagai pemimpin atau prajurit.
Itulah yang terjadi pada diri Khalid bin Walid saat Khalifah Umar bin Khathab memberhentikannya dari jabatan panglima perang. Khalid tidak kecewa apalagi sakit hati. Sebab, ia berjuang bukan untuk Umar, bukan pula untuk komandan barunya Abu Ubaidah. Khalid berjuang untuk mendapat ridha Allah swt.
5. Keikhlasan ada ketika Anda mengutamakan keridhaan Allah daripada keridhaan manusia.
6. Ikhlas ada saat Anda cinta dan marah karena Allah.
Adalah ikhlas saat Anda menyatakan cinta dan benci, memberi atau menolak, ridha dan marah kepada seseorang atau sesuatu karena kecintaan Anda kepada Allah dan keinginan membela agamaNya, bukan untuk kepentingan pribadi Anda.
7. Keikhalasan hadir saat Anda sabar terhadap panjangnya jalan.
Keikhlasan Anda akan diuji oleh waktu. Sepanjang hidup Anda adalah ujian. Ketegaran Anda untuk menegakkan kalimatNya di muka bumi meski tahu jalannya sangat jauh, sementara hasilnya belum pasti dan kesulitan sudah di depan mata, amat sangat diuji.
8. Ikhlas ada saat Anda merasa gembira jika kawan Anda memiliki kelebihan.
Yang paling sulit adalah menerima orang lain memiliki kelebihan yang tidak kita miliki.
Sumber : Dakwatuna. com (Mochamad Bugi)
Selengkapnya...
Senin, 08 Februari 2010
Cara menjemput kematian dengan perlahan-lahan
Assalamu’alaikum wr.wb
Shahabatku yang baik, semoga pekan kedua dalam bulan kedua ini, mengantarkan kita bersama, menuju pintu gerbang istana kebaikan. Sehingga kitalah menjadi penghuninya. Karena hanya orang baik saja boleh masuk kedalamnya.
Seorang penyair mengingatkan, Janganlah engkau meninggal sebelum ajal menjemputmu. Pesannya barangkali sudah terbiasa kita ucapkan. Telinga sudah amat sering mendengar bunyi nada-nada bijak itu. Tapi, sungguh hebatnya anugerah fikiran, meskipun difahami. Walaupun sering didengar, terkadang tanpa disadari, menjadi zombi-zombi hidup amat sering kita jalani.
Maafkanlah atas kelancangan saya. Karena amat berani untuk mengeneralisasikan. Seolah-olah semua kita pernah menjadi zombi atau abadi. Karena saya yakin. Saat ini, telah ada diantara shahabat benar-benar telah menjadi manusia seutuhnya. Para sufi memberi nama, kondisi hudhur.
Berbicara mengenai ajal. Sebaik apapun persiapan kita menyambut kedatangannya. Ia pasti akan datang pada saat telah dijanjikan. Selupa apapun kita akan kepastian kehadirannya, hal ini menjadi wajib hukumnya. Bagi setiap yang bernyawa, akan dijemput oleh kematian.
Ada shahabat bertanya dengan lugas. Apa yang engkau khawatirkan? Pena telah diangkat. Ketetapan telah dituliskan. Qadha dan Qadar telah dipastikan.
Menjawab tiada yang kukhawatirkan, terkadang bentuk dari pembohongan diri. Lisan berbunyi; aku mengkhawatirkan masa depanku, bukti kelemahan iman. Astaqfirullah. Kami berlindung dan memohon ampun hanya kepadaMu ya Qhaffar.
Menariknya, terkadang hal-hal yang sebelum aku jalani. Aku hiasi ia dengan rasa khawatir itu, entah dimana posisinya? Saat aku melangkah, menjalani, dan melakukan ikhtiarku. Sehingga aku benar-benar memahami, kekhawatiran adalah langkah-langkah bunuh diri, tahapan-tahapan menjembut kematian yang amat perlahan-lahan.
Hal ini semakin membuatku bertanya-tanya dan mencari hakekat khawatir. Aku duduk terdiam, mencoba menyelami kembali, setiap pos-pos kehidupan yang pernah aku singgahi. Dari setiap episode kehidupan, aku menemukan benang merah kehidupan : Habis Gelap terbitlah terang. Almarhum Crisye dengan indah melantunkan, Badai pasti berlalu.
Rasa khawatir adalah hasil buah fikiran, bertujuan untuk memproteksi tubuh dari bahaya. Sehingga ia beri signal dengan gejala-gejala : keringat, perut perih, pandangan agak kabur, kepala senut-senut dan berbagai bentuk kreasi lainnya.
Jika memang demikian wujudnya. Bukankah ajakan-ajakan pejalan spiritual amat wajar untuk diikuti. Sadar.
Shahabat, khawatir adalah kejadian, masa, waktu dan ketetapan yang belum menghadiri kita. Ia sering kita beri judul dengan hal-hal yang kurang senang, tidak berkenan untuk kita terima. Tetapi, bukankah hal-hal yang amat kita senangi, kita berkenan atas kedatanganya, kita menkondisikan dengan kebahagiaan dan penuh harapan?
Seorang shahabat mengajak kita merenungi dan tinjau kembali sejenak. Bukankah ia wujud yang sama. Yaitu peristiwa yang akan datang? Bearti, ini adalah persepsi dan buah fikiran, yang dihasilkan oleh sudut pandang dan cara menyikapi akan masa depan, betul? Maafkan ia yang suka bertanya.
”Aku sebagaimana prasangka hambaKu”.
Jika memang demikian, anjuran berprasangka baik, ajakan berharap keindahan, dan seruan berkeinginan kebaikan. Pantaslah bila kita tempatkan pada tatanan kewajiban. Adakah sahabat yang merubah persepsi (cara menyikapi/cara memandang) sekarang?...
Bogor 7 Februari 2010
Selengkapnya...
Minggu, 07 Februari 2010
Adab Berdandan
ADAB BERDANDAN / BERHIAS
1. Disunnatkan memakai pakaian baru, bagus dan bersih. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kepada salah seorang shahabatnya di saat beliau melihatnya mengenakan pakaian jelek : “Apabila Allah mengaruniakan kepadamu harta, maka tampakkanlah bekas ni`mat dan kemurahan-Nya itu pada dirimu.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).
2. Pakaian harus menutup aurat, yaitu longgar tidak membentuk lekuk tubuh dan tebal tidak memperlihatkan apa yang ada di baliknya.
3. Pakaian laki-laki tidak boleh menyerupai pakaian perempuan atau sebaliknya. Karena hadits yang bersum-ber dari Ibnu Abbas Radhiallaahu ‘anhu ia menuturkan: “Rasulullah melaknat (mengutuk) kaum laki-laki yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.” (HR. Al-Bukhari).
Tasyabbuh atau penyerupaan itu bisa dalam bentuk pakaian ataupun lainnya.
4. Pakaian tidak merupakan pakaian show (untuk ketenaran), karena Rasulullah Radhiallaahu ‘anhu telah bersabda: “Barang siapa yang mengenakan pakaian ketenaran di dunia niscaya Allah akan mengenakan padanya pakaian kehinaan di hari Kiamat.” ( HR. Ahmad, dinilai hasan oleh Al-Albani).
5. Pakaian tidak boleh ada gambar makhluk yang bernyawa atau gambar salib, karena hadits yang bersumber dari Aisyah Radhiallaahu ‘anha menyatakan bahwasanya beliau berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membiarkan pakaian yang ada gambar salibnya melainkan Nabi menghapusnya”. (HR. Al-Bukhari dan Ahmad).
6. Laki-laki tidak boleh memakai emas dan kain sutera kecuali dalam keadaan terpaksa. Karena hadits yang bersumber dari Ali Radhiallaahu ‘anhu mengatakan, Sesungguhnya Nabi Allah Subhaanahu wa Ta’ala pernah membawa kain sutera di tangan kanannya dan emas di tangan kirinya, lalu beliau bersabda: Sesungguhnya dua jenis benda ini haram bagi kaum lelaki dariumatku”. (HR. Abu Daud dan dinilai shahih oleh Al-Albani).
7. Pakaian laki-laki tidak boleh panjang melebihi kedua mata kaki. Karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : “Apa yang berada di bawah kedua mata kaki dari kain itu di dalam neraka” (HR. Al-Bukhari).
8. Adapun perempuan, maka seharusnya pakaiannya menu-tup seluruh badannya, termasuk kedua kakinya.Adalah haram hukumnya orang yang menyeret (meng-gusur) pakaiannya karena sombong dan bangga diri. Sebab ada hadits yang menyatakan : “Allah tidak akan memperhatikan di hari Kiamat kelak kepada orang yang menyeret kainnya karena sombong”. (Muttafaq’alaih).
9. Disunnatkan mendahulukan bagian yang kanan di dalam berpakaian atau lainnya. Aisyah Radhiallaahu ‘anha di dalam haditsnya berkata: “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam suka bertayammun (memulai dengan yang kanan) di dalam segala perihalnya, ketika memakai sandal, menyisir rambut dan bersuci’. (Muttafaq’-alaih).
10. Disunnatkan kepada orang yang mengenakan pakaian baru membaca :“Segala puji bagi Allah yang telah menutupi aku dengan pakaian ini dan mengaruniakannya kepada-ku tanpa daya dan kekuatan dariku”. (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
11. Disunnatkan memakai pakaian berwarna putih, katrena hadits mengatakan: “Pakaialah yang berwarna putih dari pakaianmu, karena yang putih itu adalah yang terbaik dari pakaian kamu …” (HR. Ahmad dan dinilah shahih oleh Albani).
12. Disunnatkan menggunakan farfum bagi laki-laki dan perempuan, kecuali bila keduanya dalam keadaan berihram untuk haji ataupun umrah, atau jika perempuan itu sedang berihdad (berkabung) atas kematian suaminya, atau jika ia berada di suatu tempat yang ada laki-laki asing (bukan mahramnya), karena larangannya shahih.
13. Haram bagi perempuan memasang tato, menipiskan bulu alis, memotong gigi supaya cantik dan menyambung rambut (bersanggul). Karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya mengatakan: “Allah melaknat (mengutuk) wanita pemasang tato dan yang minta ditatoi, wanita yang menipiskan bulu alisnya dan yang meminta ditipiskan dan wanita yang meruncingkan giginya supaya kelihatan cantik, (mereka) mengubah ciptaan Allah”. Dan di dalam riwayat Imam Al-Bukhari disebutkan: “Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya”. (Muttafaq’alaih).
Selengkapnya...
Sabtu, 06 Februari 2010
Adab Buang Air Besar ( BAB )
Seorang muslim yang akan buang hajat ( BAB / BAK ) harus memperhatikan adab – adab yang ditetapkan dalam Islam dan dicontohkan oleh Rasulullo SAW , yaitu :
1. Tidak membawa atau mengenakan sesuatu yang bertuliskan lafadz Alloh
Dari Anas Bin Malik RA , ia berkata ,” Rasululloh SAW jika masuk ke tempat buang hajat , maka Beliau melepas cincinya.” ( cincin Raululloh SAW bertuliskan Muhammad Rasululloh ) HR. Abu Dawud , Tirmidzi , An Nasai , Ibnu Majah )
2. Menjauh dari manusia dan menghalangi diri dari pandangan manusia
Dari Jabir RA berkata ,” Sesungguhnya Nabi SAW jika hendak buang air besar maka Beliau SAW pergi atau berpindah agar tidak ada orang yang melihatnya.” ( HR. Abu Dawud )
3. Hendaknya membaca doa ( waktu masuk WC / ketika membuka baju )
4. Masuk dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan
5. Tidak mengangkat pakaiannya jika buang hajat di tempat terbuka
Dari Ibnu Umar RA , ia berkata bahwa ,” Nabi SAW jika ingin buang hajat , maka Beliau SAW tidak mengangkat kainnya sampai ketika ia dekat dengan tanah / jongkok.” ( HR. Abu Dawud , Tirmidzi )
6. Tidak menghadap kiblat atau membelakanginya
Dari Abu Ayyub Al Anshori RA , bahwa Nabi SAW bersabda ,” Jika kalian mendatangi tempat buang hajat , maka janganlah kalian menghadap kiblat dan jangan membelakanginya , baik buang air kecil ataupun buang air besar , akan tetapi hendklah kalian menghadap ke timur atau barat.”
Dari Abdullah Bin Umar RA , berkata ,”Aku mendatangi rumah saudara perempuanku Hafshoh dan aku melihat Rasululloh SAW jongkok karena sedang buang hajat dengan menghadap ke kota Syam dan membelakangi kiblat.” ( HR. Bukhori & Muslim )
Dari 2 hadits ini , ada beberapa pendapat :
· Beberapa ulama sepakat bahwa buang hajat dengan menghadap kiblat hukumnya haram
· Sebagian ulama berpendapat bahwa buang hajat dengan menghadap kiblat hukumnya hanya makruh
· Pendapat lainnya adalah bila di tempat terbuka tidak boleh dan jika di tempat tertutup tidak apa – apa
7. Tidak buang hajat di tempat umum , jalan , tempat berteduh , air yang tergenang , lubang
Dari Abu Hurairah RA , bahwa Rasululloh SAW bersabda ,” Takutlah kalian kepada Al La’aanin.” Mereka berkata ,” Apakakh La’aanin itu wahai Rasululloh ? Beliau menjawab ,” Orang – orang yang buang air di tempat orang – orang yang berjalan atau di tempat orang – orang berteduh.” ( HR. Muslim , Abu Dawud , Ibnu Majah )
Dari Abu Hurairah RA , bahwa Rasululloh SAW bersabda ,” Janganlah sekali – kali kalian kencing di dalam air yang tergenang , yang tidak mengalir kemudian mandi di dalamnya. ( HR. Bukhori & Muslim )
8. Tidak berbicara , menjawab salam atau menjawab adzan
Dari Ibnu Umar RA , ia berkata ,” Seorang laki – laki melewati Rasululloh SAW yang sedang buang air kecil , lalu ia member salam , maka Rasululloh SAW tidak menjawab salamnya.” ( HR. Muslim )
Dari Muhajir Bin Qunfudz , dia berkata ,” Saya bertemu dengan Nabi SAW , yg mana ketika itu Beliau buang air kecil , maka saya mengucapkan salam kepada Beliau. Tetapi teryata Beliau tidak menjawab salamku , sampai akhirnya Beliau berwudhu , baru menjawab. Setelah itu Beliau menyebutkan alasan kenapa Beliau melakukan itu. Beliau berkata ,” Saya tidak senang berdzikir kepada Alloh kecuali dalam keadaan suci.” ( HR. Abu Dawud )
9. Tidak buang hajat pada bak tempat mandinya
Rasululloh SAW bersabda ,” Janganlah seorang di antara kalian buang air kecil di tempat mandinya kemudian dia mandi di dalamnya.” ( HR. Muslim )
10. Tidak memegang kemaluannya dengan tangan kanan & jika cebok dengan tangan kiri
Dari Abu Qotadah RA , bahwa Rasululloh SAW bersabda ,” Jika seorang diantara kalian minum , maka janganlah ia bernafas di dalam gelasnya , dan jika mendatangi WC maka janganlah ia memegang kemaluannya dengan tangan kanannya dan janganlah ia cebok dengan tangan kanannya.” ( HR. Bukhori & Muslim )
11. Jika baru bangun tidur , jangan langsung mencelupkan tangannya ke dalam bak air
Dari Abu Hurairah RA , bahwa Nabi SAW bersabda ,” Jika salah seorang diantara kalian bangun tidur , maka janganlah ia mencelupkan tanganya ke dalam tempayan sebelum ia mencucinya sebanyak tiga kali , karena sesungguhnya ia tidak mengetahui dimana letak tangannya ketika tidur.” ( HR. Bukhori & Muslim )
12. Tidak boleh bersuci dengan kotoran kering atau tulang
13. Jika bersuci dengan batu
Rasululloh SAW bersabda ,” Barangsiapa yang beristinjak dengan batu , maka beristinjaklah dengan bilangan ganjil.” ( HR. Bukhori & Muslim )
14. Wajib menghilangkan kotoran yang menempel pada lobang kemaluan
15. Memercikkan air ke celananya dan berwudhu
Al Hakam Bin Sufyan RA , ia berkata ,” Rasululloh SAW jika selesai buang air kecil , Beliau berwudhu dan memercikkan air ke celananya.” ( HR. Abu Dawud )
16. Hendaknya menggosokkan tangan ketanah setelah bersuci
Dari Abu Hurairah RA ,ia berkata ,” Sesungguhnya Nabi SAW setelah buang hajat maka Beliau beristinjak ( dengan air ) dari sebuah bejana , lalu menggosok tangannya dengan tanah.” ( HR. Abu Dawud , Ibnu Majah )
17. Tidak berlama – lama di dalam tempat buang hajat.
TAMBAHAN SEPUTAR ADAB BUANG HAJAT.
1. Mandi / menghilangkan kotoran dengan air musta’mal ( air bekas bersuci ) tidak apa – apa
“ Beliau SAW pernah mandi dari air bekas mandi istrinya Maimunah RA.” ( HR. Muslim No. 323 / Haid / ukuran air yang tepat untuk mandi junub )
Dari Ibnu Abbas RA , ia berkata ,” Beberapa istri Rasululloh SAW sedang mandi di sebuah bejana , maka datanglah Rasululloh SAW dan mandi dari air bekas istri – istri tersebut. Maka salah seorang dari mereka berkata ,” Sesungguhnya aku ini sedang junub.” Beliau pun menjawab ,” Sesungguhnya air itu tidak junub.” ( HR. Ahmad , Abu Dawud , An Nasai )
2. Tingkatan dalam bersuci :
· Dengan batu kemudian di bilas dengan air
· Dengan air saja
· Dengan batu
Selengkapnya...
Hikmah Hari Jum'at
"Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat, lalu segera pergi (ke masjid) dengan berjalan kaki: tidak naik kendaraan, (dan setibanya di masjid) ia mendekat dengan imam, lalu mendengarkan khotbah dan tidak melakukan perbuatan yang sia-sia, maka (pahala) pada setiap ayunan langkah kakinya,
mulai dari rumah hingga masjid adalah seperti (pahala ibadah) selama satu tahun sambil berpuasa dan melaksanakan qiyamulail." (HR Ahmad dan Baihaqi)
Selengkapnya...
Jumat, 05 Februari 2010
APLIKASI BERIMAN KEPADA ROSUL-ROSUL ALLOH SWT
Dasarnya adalah :
Artinya: Katakanlah (hai orang-orang mumin): Kami beriman kepada Alloh dan apa yang diturunkan kepada kami,dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim,Ismail,Ishaq,Ya,qub,dan anak cucunya,dan apa yang di berikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-NYA.(Al baqarah:136)
Artinya: Rosul telah beriman kepada Al quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orangyang beriman. Semuanya beriman kepasa Alloh,malaikat-malaikat NYA,kitab-kitabNYA, dan Rosul-rosulNYA.(mereka mengatakan): kami tidak membedakan antara seorangpun (dengan yang lain) dari rosul-rosul NYA, dan mereka mengatakan: kami dengar dan kami taat. (Mereka berdoa): Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.(Al baqarah:285)
Sikap kita terhadap Rosul dan Nabi harus mengetahui (samina), mentaati/mengikuti(wa ato,na).
Didalam hadist,para Nabi jumlahnya:124.000,dan Rosul ada 313 atau 315.
Didalm Al quran rosul ada yang diceritakan dan ada yang tidak di ceritakan, dasarnya adalah:
· Artinya: Dan (kami telah mengutus) rosul-rosul yang sungguh telah kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu,dan rosul-rosul yang tidak kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Alloh telah berbicara kepada Musa dengan langsung.(Annisa:164)
Rosul/Nabi yang diceritakan dalam Al quran hanya 25,dasarnya adalah:
Dan itulah hujjah kami yang kami berikan kepada Ibrahim untuk engahadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(Al anam:83)
Dan kami telah menganugrahkan Ishaq dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) kami beri petunjuk,dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Dawud,Sulaiman,Ayyub,Yusuf,Musa,dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.(Al anam:84)
Dan Zakaria,Yahya,Isa, dan Ilyas.Semuanya termasuk orang-orang yang soleh.(Al anam:85)
Dan Ismail, Alyasa, Yunus, Dan Luth.Masing-masingnya kami lebihkan derajatnya diatas umat (dimasanya).(Al anam:86)
Sesungguhnya Alloh telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (dimasa mereka masing-masing).(Ali Imran:33).
Dan (kami telah mengutus) kepada kaum Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: Hai kaumku, sembahlah Alloh, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-NYA. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa kepada NYA?(Al araf:65).
Dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: Hai kaumku, sembahlah Alloh,sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampun NYA, kmudian bertobatlah kepada NYA. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat NYA) lagi maha memperkenankan (doa hanba NYA).(Huud:61)
Dan kepada (penduduk) Madyan (kami utus) saudara mereka,Syuaib. Ia berkata:Hai kaumku, sembahlah Alloh, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat Aku melihat kamu dalam keadaan yang baik(mampu) dan sesungguhnya Aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan(kiamat).(Huud:84)
Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.(Al anbiyya:85)
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rosululloh dan penutup Nabi-nabi.Dan adalah Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu.(Al ahzab:40).
Alloh mengutus rosul pada setiap umat(setiap umat punya rosul),dasarny adalah:
Sesungguhnya kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran, sebagia pembawa berita gembira dan sebagai peringatan. Dan tidak ada satu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.(Faathir:24).
Tiap-tiap umat mempunyai rosul; ;maka apabila telah datang rosul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka sedikitpun tidak dianiaya.(Yunus:47)
Orang-orang kafir berkata:Mengapa tidak diturunkan kepadanya(muhammad) suatu tanda (kebesaran) dari Tuhannya? Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.(Ar radu:7).
Ket: fungsi rosul untuk umatnya adalah:
1. Pemberi kabar gembira(Basyiraa)
2. Pemberi peringatan(Wa nadiraa).
Semua Rosul itu manusia biasa,dasarnya:
Alloh memilih utusan-utusan NYA dari malaikat dan dari manusia;sesungguhnya Alloh Maha mendengar lagi Maha Melihat.(Al hajj:75)
Semua Nabi dan Rosul itu laki-laki,dasarnya:
Kami tiada mengutus rosul-rosul sebelum kamu (Muhammad), melaimkan beberapa orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.(Al anbiyya:7)
Seorang Wanita tidak boleh jadi pemimpin (haram).dasarnya:
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita,oleh karena Alloh telah melebihkan sebagian mereka(laki-laki) atas sebagian yang lain(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Alloh lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Alloh telah memelihara mereka ,Wanita-wanita ynag kamu khawatirkan (nusyuznya), maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan unutk menyusahkannya. Sesungguhnya Alloh Maha Tinggi lagi Maha Besar.(Annisa:34)
Semua Rosul itu menikah,dasarnya:
Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rosul sebelum kamu dan kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada haq bagi seorang rosul mendatangkan sesuatu ayat (mujizat) melainkan dengan izin Alloh. Bagi tiap-tiap masa ada kitab (yang tertentu).(Arradu:38).
Sumber
Oleh Ustadz H. Elfa Hendri Mukhlis
Masjid Al Mukhlisin
Selengkapnya...
Sistem Pemerintahan yang Diwajibkan Allah adalah Sistem Khilafah
Sistem pemerintahan Islam yang diwajibkan oleh Tuhan alam semesta adalah sistem Khilafah. Di dalam sistem Khilafah ini Khilafah
Khalifah diangkat melalui baiat berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya untuk memerintah sesuai dengan wahyu yang Allah turunkan. Dalil-dalil yang menunjukkan kenyataan ini sangat banyak, diambil dari al-Kitab, as-Sunnah, dan Ijmak Sahabat.
Dalil dari al-Kitab di antaranya bahwa Allah SWT telah berfirman menyeru Rasul saw.:
Karena itu, putuskanlah perkara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (QS al-Maidah [5]: 48).
Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati-hatilah terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian wahyu yang telah Allah turunkan kepadamu. (QS al-Maidah [5]: 49).
Seruan Allah SWT kepada Rasul saw. untuk memutuskan perkara di tengah-tengah mereka sesuai dengan wahyu yang telah Allah turunkan juga merupakan seruan bagi umat Beliau. Mafhûm-nya adalah hendaknya kaum Muslim mewujudkan seorang hakim (penguasa) setelah Rasulullah saw. untuk memutuskan perkara di tengah-tengah mereka sesuai dengan wahyu yang telah Allah turunkan. Perintah dalam seruan ini bersifat tegas karena yang menjadi obyek seruan adalah wajib. Sebagaimana dalam ketentuan ushul, ini merupakan indikasi yang menunjukkan makna yang tegas. Hakim (penguasa) yang memutuskan perkara di tengah-tengah kaum Muslim setelah wafatnya Rasulullah saw. adalah Khalifah, sedangkan sistem pemerintahannya adalah sistem Khilafah. Apalagi penegakan hukum-hukum hudûd dan seluruh ketentuan hukum syariah adalah wajib. Kewajiban ini tidak akan terlaksana tanpa adanya penguasa/hakim, sedangkan kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan adanya sesuatu maka keberadaan sesuatu itu hukumnya menjadi wajib. Artinya, mewujudkan penguasa yang menegakkan syariah hukumnya adalah wajib. Dalam hal ini, penguasa yang dimaksud adalah Khalifah dan sistem pemerintahannya adalah sistem Khilafah.
Adapun dalil dari as-Sunnah, di antaranya adalah apa yang pernah diriwayatkan dari Nafi’. Ia berkata: Abdullah bin Umar telah berkata kepadaku: Aku mendengar Rasulullah saw. pernah bersabda:
«مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةً لَهُ وَ مَنْ مَاتَ وَ لَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً»
Siapa saja yang melepaskan tangan dari ketaatan, ia akan menjumpai Allah pada Hari Kiamat kelak tanpa memiliki hujjah, dan siapa saja yang mati, sedangkan di pundaknya tidak terdapat baiat (kepada Khalifah), maka ia mati seperti kematian Jahiliah. (HR Muslim).
Nabi saw. telah mewajibkan kepada setiap Muslim agar dipundaknya terdapat baiat. Beliau juga menyifati orang yang mati, yang di pundaknya tidak terdapat baiat, sebagai orang yang mati seperti kematian Jahiliah. Baiat tidak akan terjadi setelah Rasulullah saw. kecuali kepada Khalifah, bukan kepada yang lain. Hadis tersebut mewajibkan adanya baiat di atas pundak setiap Muslim, yakni adanya Khalifah yang dengan eksistensinya itu terealisasi adanya baiat di atas pundak setiap Muslim. Imam Muslim menuturkan riwayat dari al-A’raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi saw., bahwa Nabi saw. pernah bersabda:
«إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَ يُتَّقَى بِهِ»
Sesesungguhnya Imam/Khalifah itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya. (HR Muslim).
Imam Muslim telah menuturkan riwayat dari Abi Hazim yang berkata: Aku mengikuti majelis Abu Hurairah selama lima tahun. Aku pernah mendengar ia menyampaikan hadis dari Nabi saw. yang bersabda:
«كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ اْلأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ فَتَكْثُرُ، قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: فُوْا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ»
“Dulu Bani Israel diurusi dan dipelihara oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, nabi yang lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku dan akan ada para Khalifah, yang berjumlah banyak.” Para Sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi saw. bersabda, “Penuhilah baiat yang pertama, yang pertama saja, dan berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa saja yang mereka urus.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Di dalam hadis-hadis ini terdapat sifat bagi Khalifah sebagai junnah (perisai) atau wiqâyah (pelindung). Sifat yang diberikan oleh Rasul saw. bahwa Imam adalah perisai merupakan ikhbâr (pemberitahuan) yang mengandung pujian terhadap eksistensi seorang imam/khalifah. Ikhbâr ini merupakan tuntutan karena ikhbâr dari Allah dan Rasul saw., jika mengandung celaan, merupakan tuntutan untuk meninggalkan, yakni larangan; jika mengandung pujian, merupakan tuntutan untuk melakukan. Jika aktivitas yang dituntut itu pelaksanaannya memiliki konsekuensi terhadap tegaknya hukum syariah atau pengabaiannya memiliki konsekuensi terabaikannya hukum syariah, maka tuntutan itu bersifat tegas. Dalam hadis ini juga terdapat ikhbâr, bahwa orang yang mengurus kaum Muslim adalah para khalifah, yang berarti, hadis ini merupakan tuntutan untuk mengangkat khalifah. Apalagi Rasul saw. telah memerintahkan kaum Muslim untuk menaati para khalifah dan memerangi siapa saja yang hendak merebut jabatan dalam kekhalifahannya. Perintah Rasul saw. ini berarti perintah untuk mengangkat khalifah sekaligus menjaga eksistensi kekhalifahannya dengan cara memerangi semua orang yang hendak merebut kekuasaannya. Imam Muslim telah menuturkan riwayat bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
«وَ مَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَ ثَمْرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنْ اِسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرٌ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوْا عُنُقَ اْلآخَرِ»
Siapa saja yang telah membaiat seorang imam/khalifah serta telah memberikan genggaman tangannya dan buah hatinya, maka hendaklah ia menaatinya sesuai dengan kemampuannya. Lalu jika datang orang lain yang hendak merebut kekuasaannya, maka penggallah leher (bunuhlah) orang itu. (HR Muslim).
Dengan demikian, perintah untuk menaati Imam/Khalifah merupakan perintah untuk mengangkatnya, dan perintah untuk memerangi siapa saja yang hendak merebut kekuasaan Khalifah menjadi qarînah (indikasi) yang tegas di seputar keharusan untuk mewujudkan hanya seorang khalifah saja.
Adapun dalil berupa Ijmak Sahabat maka para Sahabat—semoga Allah meridhai mereka—telah bersepakat atas keharusan mengangkat seorang khalifah (pengganti) bagi Rasulullah saw. setelah Beliau wafat. Mereka telah bersepakat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah, lalu Umar bin al-Khaththab, sepeninggal Abu Bakar, dan kemudian Utsman bin Affan. Sesungguhnya tampak jelas penegasan Ijmak Sahabat terhadap kewajiban pengangkatan khalifah dari sikap mereka yang menunda penguburan jenazah Rasulullah saw. saat Beliau wafat; mereka lebih menyibukkan diri untuk mengangkat khalifah (pengganti) Beliau, padahal menguburkan jenazah setelah kematiannya adalah wajib. Para Sahabat, yang berkewajiban mengurus jenazah Rasul saw. dan menguburnya, ternyata sebagian dari mereka lebih menyibukkan diri untuk mengangkat khalifah dan menunda penguburan jenazah Beliau; sebagian yang lain membiarkan penundaan itu; mereka sama-sama ikut serta dalam penundaan pengebumian jenazah Rasul saw. sampai dua malam. Padahal mereka mampu mengingkarinya dan mampu menguburkan jenazah Rasulullah saw. Rasul saw. wafat pada waktu dhuha hari Senin dan belum dikuburkan selama malam Selasa hingga Selasa siang saat Abu Bakar dibaiat. Kemudian jenazah Rasul dikuburkan pada tengah malam, malam Rabu. Jadi, penguburan jenazah Rasul saw. itu ditunda selama dua malam, dan Abu Bakar dibaiat terlebih dulu sebelum penguburan jenazah Rasul saw. Dengan demikian, realitas tersebut merupakan Ijmak Sahabat yang menunjukkan keharusan untuk lebih menyibukkan diri untuk mengangkat khalifah daripada menguburkan jenazah. Hal itu tidak akan terjadi kecuali bahwa mengangkat khalifah lebih wajib daripada mengebumikan jenazah. Para Sahabat seluruhnya juga telah berijmak sepanjang kehidupan mereka mengenai kewajiban mengangkat khalifah. Meski mereka berbeda pendapat mengenai seseorang yang dipilih sebagai khalifah, mereka tidak berbeda pendapat sama sekali atas kewajiban mengangkat khalifah, baik ketika Rasul saw. wafat maupun saat Khulafaur Rasyidin wafat. Walhasil, Ijmak Sahabat ini merupakan dalil yang jelas dan kuat atas kewajiban mengangkat khalifah.
[Sumber: Struktur Negara Khilafah ]
Selengkapnya...
Adab Tidur
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan. ( Ar Ruum : 23 )
Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.( An Nabaa’ : 9 )
ADAB TIDUR
1. Menutup pintu , mematikan api / lampu
Dari Jabir Bin Abdillah RA , Rasululloh SAW bersabda ,” Matikanlah lampu – lampu di waktu malam jika kalian hendak tidur dan tutuplah pintu – pintu , bejana serta makanan dan minuman kalian.” ( HR. Bukhori & Muslim )
Dari Ibnu Umar RA , Rasululloh SAW bersabda ,” Janganlah kalian meninggalkan api yang menyala ketika kalian tidur.” ( HR. Bukhori )
2. Menutup tempat makanan dan minuman
Rasululloh SAW bersabda ,” Tutuplah tempat makanan dan minuman kalian , sesungguhnya dalam setahun ada satu malam yang wabah penyakit diturunkan , tidaklah wabah itu melewati makanan dan minuman yang terbuka kecualai akan hinggap didalamnya.” ( HR. Muslim )
3. Berwudhu
Dari Bara’ Bin Azib RA , Rasululloh SAW bersabda ,” Apabila kalian hendak mendatangi tempat tidur maka berwudhulah seperti wudhu kalian untuk sholat.” ( HR. Bukhori & Muslim )
4. Mengebuti tempat tidur
Dari Abu Hurairah RA , Rasululloh SAW bersabda ,” Apabila salah seorang di antara kalian hendak tidur , maka kebutilah tempat tidurnya dengan ujung sarungnya , karena sesungguhnya dia tidak tahu apa yang akan menimpa padanya.” ( HR. Bukhori & Muslim )
5. Sholat witir sebelum tidur
Abu Hurairah RA berkata ,” Kekasihku Rasululloh SAW mewasiatkan kepadaku tiga perkara , agar aku berpuasa tiga hari setiap bulan , sholat dhuha dua rakaat dan sholat witir sebelum tidur.” ( HR. Bukhori & Muslim )
6. Membaca doa sebelum tidur
7. Membaca ayat – ayat Al Qur’an sebelum tidur , yaitu :
· Ayat kursi ( Al Baqoroh : 255 )
· Surat Al Ikhlas , Al Falaq dan An Naas
Aisyah RA berkata ,” Adalah Rasululloh SAW apabila hendak tidur , Beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu meniupnya seraya membaca surat Al Ikhlas , Al Falaq dan An Naas. Kemudian Beliau mengusapkan kedua telapak tangannya ke bagian tubuh yang bisa diusap , dimulai dari kepala , wajah dan bagian tubuh lainnya sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhori , Muslim , Abu Dawud , Tirmidzi , Ibnu Majah )
· 2 terakhir dari Surat Al Baqoroh
Dari Abu Mas’ud Al Badriyi RA , Rasululloh SAW bersabda ,” Dua ayat terakhir dari surat Al Baqoroh , barangsiapa yang membacanya di waktu malam , maka akan mencukupinya.” ( HR. Bukhori & Muslim )
· Surat Al Mulk ( Tabaarok ) dan As Sajdah
Dari Jabir Bin Abdillah RA , ia berkata ,” Tidaklah Rasululloh SAW tidur melainkan membaca terlebih dahulu surat As Sajdah dan At Tabaarok.” ( HR. Bukhori , An Nasai )
8. Larangan tidur dalam satu selimut
Dari Abu Said Al Khudzry RA dari Bapaknya bahwa Rasululloh SAW bersabda ,” Janganlah laki – laki melihat aurat laki – laki yang lain , dan janganlah seorang wanita melihat aurat wanita yang lain. Dan janganlah laki – laki berkumpul dengan laki – laki lain dalam satu selimut dan janganlah wanita berkumpul dengan wanita lainnya dalam satu selimut.” ( HR. Muslim & Tirmidzi )
9. Larangan tidur di rumah yang tidak ada penghalang
Dari Ali Bin Syaiban RA , Rasululloh SAW bersabda ,” Barangsiapa yang tidur di atas rumah tanpa penutup , maka sungguh telah terlepas darinya penjagaan.” ( HR. Bukhori , Abu Dawud , Ahmad )
10. Menjaga aurat ketika tidur
11. Tidur dengan posisi berbaring ke sebelah kanan
Hudzaifah Bin Al Yaman RA berkata ,” Adalah Nabi SAW apabila tidur , Beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipinya.” ( HR. Bukhori , Ahmad , Abu Dawud )
Rasululloh SAW bersabda ,” Apabila engkau hendak mendatangi tempat tidur , maka berwudhulah seperti wudhu kalian untuk sholat kemudian berbaringlah ke sisi sebelah kanan.” ( HR. Bukhori & Muslim )
12. Larangan tidur dengan posisi tengkurep
Tikhfah Al Ghiffari RA , ia berkata ,” Suatu ketika tatkala aku tidur dalam masjid , tiba – tiba ada seorang yang menghampiriku , sedangkan aku dalam keadaan tidur tengkurep , lalu dia membangunkanku dengan kakinya seraya berkata ,” Bangunlah ! ini adalah bentuk tidur yang dibenci Alloh.” Maka akupun mengangkat kepalaku , teryata Beliau adalah Nabi SAW.” ( HR. Bukhori , Tirmidzi )
13. Larangan tidur dengan posisi kaki sebelah di atas kaki lainnya.
Rasululloh SAW bersabda ,” Jika salah seorang di antara kalian terlentang di atas punggungnya ( tidur ) maka janganlah menaruh salah satu kakinya di atas kaki yang lainnya.” ( HR. Tirmidzi )
14. Tidur ba’da subuh
Suatu ketika Abdullah Bin Abbas RA melihat anaknya sedang tidur di waktu subuh , kemudian Beliau berkata ,” Bangunlah ! Apakah engkau hendak tidur di saat riski itu sedang dibagikan ? ( Kitab Zaadul Ma’ad )
15. Anjuran Qoyluulah ( istirahat di pertengahan siang / tidur sebentar tidak pulas )
Dari Sahl Bin Sa’d RA , ia berkata ,” Tidaklah kami qoyluulah dan makan siang kecuali setelah sholat jum’at.” ( HR. Bukhori & Muslim )
Rasululloh SAW bersabda ,” Qoyluulah lah kalian , sesungguhnya setan tidak qoyluulah.” ( HR. Abu Nu’aim , Thabrani )
16. Tidur di awal malam
Ibnu Abbas RA berkata ,” Suatu ketika aku pernah bermalam di rumah bibiku ( Maimunah ) untuk melihat bagaimana shalatnya Rasululloh SAW. Beliau berbincang sejenak bersama istrinya , kemudian tidur.” ( HR. Muslim )
17. Larangan tidur sebelum Isya’
Abu Barzah RA , berkata ,” Bahwasanya Rasululloh SAW membenci tidur sebelum Isya’ dan bercakap – cakap setelahnya.” ( HR. Bukhori & Muslim )
18. Tentang mimpi
Dari Abdullah Bin Abu Qotadah RA , bahwasanya Rasululloh SAW bersabda ,” Mimpi yang baik adalah dari Alloh , sedangkan mimpi yang buruk dari syethan. Maka apabila salah seorang di antara kalian mipi buruk , hendaklah ia meludah ke arah kiri dan memohon perlindungan kepada Allohdari kejelekannya , sesungguhnya hal itu tidak akan memberinya mudhorot.” ( HR. Buhori & Muslim )
19. Mimpi basah
Dari Ummu Salamah RA , ia berkata ,” Telah dating Ummu Sulaim ( istrinya Abu Thalhah ) kepada Rasululloh SAW seraya berkata ,” Wahai Rasululloh , sesungguhnya Alloh tidak malu dari kebenaran , apakah seorang wanita wajib mandi jika dia mimpi basah ? Rasululloh SAW menjawab ,” Ya.” Apabila dia mendapati air mana.” ( HR.Bukhori & Muslim )
20. Doa ketika gelisah / takut ketika tidur
“ Aku berlindung dengan kailmat – kalimat Alloh yang sempurna dan murka Nya , siksa Nya , dari kejahatan hamba – hamba Nya , dari godaan para syethan dan dari kedatangan mereka kepadaku.” ( HR. Abu Dawud , Tirmidzi )
HAL – HAL YANG DILAKUKAN KETIKA BANGUN TIDUR
1. Membaca doa bangun tidur
2. Mengusap bekas tidur yang ada di wajah atau di tangan
Maka Rasululloh SAW bangun dari tidurnya lalu duduk sambil mengusap wajahnya dengan tangannya.” ( HR. Muslim )
3. Bersiwak / gosok gigi
Apabila Rasululloh SAW bangun dari tidur malam , Beliau membersihkan mulutnya dengan bersiwak.” ( HR. Bukhori , Muslim )
4. Beristintsaar ( menghirup air dengan hidung kemudian menyemburkannya )
Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya , maka beristintsaarlah tiga kali , karena sesungguhnya syethan bermalam di rongga hidungya.” ( HR. Bukhori , Muslim )
5. Mencuci tangan sebanyak tiga kali
Jiak salah seorang diantara kalian bangun tidur , janganlah ia memasukkan tangannya kedalam bejana sebelum ia mencucinya tiga kali.” ( HR. Bukhori , Muslim )
Sumber http://akur73.dagdigdug.com/2010/02/05/adad-tidur/
Selengkapnya...
MUI: Haram Rayakan Valentine
Majelis Ulama Indonesia dalam waktu dekat akan membahas mengenai perlu tidaknya dikeluarkan fatwa haram perayaan valentine. Tindakan MUI ini setelah adanya desakan dari berbagai kalangan agar MUI mengharamkan perayaan hari valentine yang diperingati setiap tanggal 14 Februari tersebut sebagai hari kasih sayang.
“Kalau dilihat perayaannya, tidak mengeluarkan fatwa secara khusus pun itu sudah haram karena banyak yang pesta-pesta, mabuk-mabukan. Jadi menurut saya perayaan tersebut sudah haram, ” ujar Ketua Dewan MUI KH Ma’ruf Amin, di Jakarta, Rabu (13/2).
Ia menilai, perayaan hari valentine yang diadopsi dari kebudayaan barat itu, identik dengan pesta pora dan mabuk-mabukkan, yang dilarang dalam ajaran Islam. apalagi ujung-ujungnya pasti mengarah ke perzinahan.
“Orang pasti tahu kalau perayaan sudah diluar aturan agama, pasti itu haram. Namun untuk menjaganya kita akan lakukan kajian terlebih dahulu, ” tegasnya.
Ritual Setanisme
Hari Valentine sendiri sesungguhnya berasal dari perayaan Lupercalia bangsa pagan Roma kuno yang diselenggarakan setiap tanggal 13 hingga 18 Februari. Pada malam menjelang tanggal 14 Februari, para pemuda dan pemudi Roma akan merayakan hari itu dengan pesta perzinahan. Inilah awal dari Hari Valentine yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Kasih Sayang (Affection) melainkan lebih kepada Sexuality (perzinahan) yang penuh maksiat.
(novel/ok-pot)
Selengkapnya...
Silahturahmi Malaikat Jibril
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya:
Pada suatu hari, ketika Rasulullah s.a.w berada bersama kaum muslimin, datang seorang lelaki kemudian bertanya kepada baginda: Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksudkan dengan Iman? Lalu baginda bersabda: Kamu hendaklah percaya yaitu beriman kepada Allah, para Malaikat, semua Kitab yang diturunkan, hari pertemuan denganNya, para Rasul dan percaya kepada Hari Kebangkitan. Lelaki itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah! Apakah pula yang dimaksudkan dengan Islam? Baginda bersabda: Islam ialah mengabdikan diri kepada Allah dan tidak menyekutukanNya dengan perkara lain, mendirikan sembahyang yang telah difardukan, mengeluarkan Zakat yang diwajibkan dan berpuasa pada bulan Ramadan. Kemudian lelaki tersebut bertanya lagi: Wahai Rasulullah! Apakah makna Ihsan? Rasulullah s.a.w bersabda: Engkau hendaklah beribadat kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya, sekiranya engkau tidak melihatNya, maka ketahuilah bahawa Dia sentiasa memerhatikanmu.
Lelaki tersebut bertanya lagi: Wahai Rasulullah! Bilakah Hari Kiamat akan terjadi? Rasulullah s.a.w bersabda: Sebenarnya orang yang bertanyakannya lebih mengetahui dariku. Walau bagaimanapun aku akan ceritakan kepadamu mengenai tanda-tandanya. Apabila seseorang hamba melahirkan majikannya maka itu adalah sebahagian dari tandanya. Seterusnya apabila seorang miskin menjadi pemimpin masyarakat, itu juga sebahagian dari tandanya. Selain dari itu apabila masyarakat yang pada asalnya pengembala kambing mampu bersaing dalam menghiasi bangunan-bangunan mereka, maka itu juga dikira tanda akan berlakunya Kiamat. Hanya lima perkara itulah sahaja sebahagian dari tanda-tanda yang diketahui dan selain dari itu Allah sahaja Yang Maha Mengetahuinya. Kemudian Rasulullah s.a.w membaca Surah Luqman ayat 34 :
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Kemudian lelaki tersebut pulang dari situ. Rasulullah s.a.w terus bersabda kepada sahabatnya: coba panggil orang itu kembali. Lalu para sahabat mengejar ke arah lelaki tersebut untuk memanggilnya kembali tetapi mereka dapati lelaki tersebut telah hilang. Lantas Rasulullah s.a.w bersabda: Lelaki tadi ialah Malaikat Jibril a.s. Kedatangannya adalah untuk mengajar manusia tentang agama mereka [HR Bukhari, Muslim dan Nasai, kitab Iman, Ibnu Majah kitab pendahuluan hadits, dan Imam Ahmad]
Selengkapnya...