14 Februari, adalah tanggal yang telah lekat dengan kehidupan muda-mudi kita. Hari yang lazim disebut Valentine Day ini, konon adalah momen berbagi, mencurahkan segenap kasih sayang kepada “pasangan”-nya masing-masing dengan memberi hadiah berupa coklat, permen, mawar, dan lainnya. Seakan tak terkecuali, remaja Islam pun turut larut dalam ritus tahunan ini, meski tak pernah tahu bagaimana akar sejarah perayaan ini bermula.
Sesungguhnya Allah Subahanahu wa Ta’ala telah memilih Islam sebagai agama bagi kita, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ اْلإِسْلاَمُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)
Allah Subahanahu wa Ta’ala juga menyatakan bahwa Dia tidak menerima dari seorang pun agama selain Islam. Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak ada seorangpun yang mendengar tentang aku, baik dia Yahudi atau Nasrani, lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan risalah yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.”
Semua agama yang ada di masa ini –selain Islam– adalah agama yang batil. Tidak bisa menjadi (jalan) pendekatan kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala. Bahkan bagi seorang hamba, agama-agama itu tidaklah menambah kecuali kejauhan dari-Nya, sesuai dengan kesesatan yang ada padanya.
Telah lama, tersebar suatu fenomena –yang menyedihkan– di kalangan banyak pemuda-pemudi Islam. Fenomena ini merupakan bentuk nyata sikap taqlid (membebek) terhadap kaum Nasrani, yaitu Hari Kasih Sayang (Valentine Day). Berikut ini secara ringkas akan dipaparkan asal-muasal perayaan tersebut, perkembangannya, tujuan serta bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapinya.
Asal Muasal
Perayaan ini termasuk salah satu hari raya bangsa Romawi paganis (penyembah berhala), di mana penyembahan berhala adalah agama mereka semenjak lebih dari 17 abad silam. Perayaan ini merupakan ungkapan –dalam agama paganis Romawi– kecintaan terhadap sesembahan mereka.
Perayaan ini memiliki akar sejarah berupa beberapa kisah yang turun-temurun pada bangsa Romawi dan kaum Nasrani pewaris mereka. Kisah yang paling masyhur tentang asal-muasalnya adalah bahwa bangsa Romawi dahulu meyakini bahwa Romulus –pendiri kota Roma– disusui oleh seekor serigala betina, sehingga serigala itu memberinya kekuatan fisik dan kecerdasan pikiran. Bangsa Romawi memperingati peristiwa ini pada pertengahan bulan Februari setiap tahun dengan peringatan yang megah. Di antara ritualnya adalah menyembelih seekor anjing dan kambing betina, lalu dilumurkan darahnya kepada dua pemuda yang kuat fisiknya. Kemudian keduanya mencuci darah itu dengan susu. Setelah itu dimulailah pawai besar dengan kedua pemuda tadi di depan rombongan. Keduanya membawa dua potong kulit yang mereka gunakan untuk melumuri segala sesuatu yang mereka jumpai. Para wanita Romawi sengaja menghadap kepada lumuran itu dengan senang hati, karena meyakini dengan itu mereka akan dikaruniai kesuburan dan melahirkan dengan mudah.
Apa Hubungan St. Valentine dengan Perayaan Ini?
Versi I: Disebutkan bahwa St. Valentine adalah seorang yang mati di Roma ketika disiksa oleh Kaisar Claudius sekitar tahun 296 M. Di tempat terbunuhnya di Roma, dibangun sebuah gereja pada tahun 350 M untuk mengenangnya.
Ketika bangsa Romawi memeluk Nasrani, mereka tetap memperingati Hari Kasih Sayang. Hanya saja mereka mengubahnya dari makna kecintaan kepada sesembahan mereka, kepada pemahaman lain yang mereka istilahkan sebagai martir kasih sayang, yakni St. Valentine, sang penyeru kasih sayang dan perdamaian, yang –menurut mereka– mati syahid pada jalan itu.
Di antara aqidah batil mereka pada hari tersebut, dituliskan nama-nama pemudi yang memasuki usia nikah pada selembar kertas kecil, lalu diletakkan pada talam di atas lemari buku. Lalu diundanglah para pemuda yang ingin menikah untuk mengambil salah satu kertas itu. Kemudian sang pemuda akan menemani si wanita pemilik nama yang tertulis di kertas (yang diambilnya) selama setahun. Keduanya saling menguji perilaku masing-masing, baru kemudian mereka menikah. Bila tidak cocok, mereka mengulangi hal yang serupa tahun mendatang.
Para pemuka agama Nasrani menentang sikap membebek ini, dan menganggapnya sebagai perusak akhlak para pemuda dan pemudi. Maka perayaan ini pun dilarang di Italia. Dan tidak diketahui kapan perayaan ini dihidupkan kembali.
Versi II: Bangsa Romawi di masa paganis dahulu merayakan sebuah hari raya yang disebut hari raya Lupercalia1. Ini adalah hari raya yang sama seperti pada kisah versi I di atas. Pada hari itu, mereka mempersembahkan qurban bagi sesembahan mereka selain Allah Subahanahu wa Ta’ala. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala itu mampu menjaga mereka dari keburukan dan menjaga binatang gembalaan mereka dari serigala.
Ketika bangsa Romawi memeluk agama Nasrani, dan Kaisar Claudius II berkuasa pada abad ketiga, dia melarang tentaranya menikah. Karena menikah akan menyibukkan mereka dari peperangan yang mereka jalani. Maka St. Valentine menentang peraturan ini, dan dia menikahkan tentara secara diam-diam. Kaisar lalu mengetahuinya dan memenjarakannya, sebelum kemudian dia dihukum mati.
Versi III: Kaisar Claudius II adalah penyembah berhala, sedangkan Valentine adalah penyeru agama Nasrani. Sang Kaisar berusaha mengeluarkannya dari agama Nasrani dan mengembalikannya kepada agama paganis Romawi. Namun Valentine tetap teguh memeluk agama Nasrani, dan dia dibunuh karenanya pada 14 Februari 270 M, malam hari raya paganis Romawi: Lupercalia.
Ketika bangsa Romawi memeluk Nasrani, mereka tetap melakukan perayaan paganis Lupercalia, hanya saja mereka mengaitkannya dengan hari terbunuhnya Valentine untuk mengenangnya.
Syi’ar Perayaan Hari Kasih Sayang
1. Menampakkan kegembiraan dan kesenangan.
2. Saling memberi mawar merah, sebagai ungkapan cinta, yang dalam budaya Romawi paganis merupakan bentuk cinta kepada sesembahan kepada selain Allah Subahanahu wa Ta’ala.
3. Menyebarkan kartu ucapan selamat hari raya tersebut. Pada sebagiannya terdapat gambar Cupid, seorang anak kecil dengan dua sayap membawa busur dan panah. Cupid adalah dewa cinta erotis dalam mitologi Romawi paganis. Maha Tinggi Allah dari kedustaan dan kesyirikan mereka dengan ketinggian yang besar.
4. Saling memberi ucapan kasih sayang, rindu, dan cinta dalam kartu ucapan yang saling mereka kirim.
5. Di banyak negeri Nasrani diadakan perayaan pada siang hari, dilanjutkan begadang sambil berdansa, bercampur baur lelaki dan perempuan.
Beberapa versi kisah yang disebutkan seputar perayaan ini dan simbolnya, St. Valentine, bisa memberikan pencerahan kepada orang berakal. Terlebih lagi seorang muslim yang mentauhidkan Allah Subahanahu wa Ta’ala. Pemaparan di atas menjelaskan hakikat perayaan ini kepada kaum muslimin yang tidak tahu dan tertipu, kemudian ikut merayakannya. Mereka hakikatnya meniru umat Nasrani yang sesat, dan mengambil segala yang datang dari Barat, Nasrani, lagi atheis.
Selengkapnya...
Selasa, 09 Februari 2010
MITOS VALENTINE DAY
Delapan Tanda Orang Ikhlas
Ada delapan tanda-tanda keikhlasan yang bisa kita gunakan untuk mengecek apakah rasa ikhlas telah mengisi relung-relung hati kita. Kedelapan tanda itu adalah:
1. Keikhlasan hadir bila Anda takut akan popularitas.
2. Ikhlas ada saat Anda mengakui bahwa diri Anda punya banyak kekurangan.
Orang yang ikhlas selalu merasa dirinya memiliki banyak kekurangan. Ia merasa belum maksimal dalam menjalankan segala kewajiban yang dibebankan Allah swt. Karena itu ia tidak pernah merasa ujub dengan setiap kebaikan yang dikerjakannya. Sebaliknya, ia cemasi apa-apa yang dilakukannya tidak diterima Allah swt. karena itu ia kerap menangis.
3. Keikhlasan hadir ketika Anda lebih cenderung untuk menyembunyikan amal kebajikan.
Orang yang tulus adalah orang yang tidak ingin amal perbuatannya diketahui orang lain. Ibarat pohon, mereka lebih senang menjadi akar yang tertutup tanah tapi menghidupi keseluruhan pohon. Ibarat rumah, mereka pondasi yang berkalang tanah namun menopang keseluruhan bangunan.
4.Ikhlas ada saat Anda tak masalah ditempatkan sebagai pemimpin atau prajurit.
Itulah yang terjadi pada diri Khalid bin Walid saat Khalifah Umar bin Khathab memberhentikannya dari jabatan panglima perang. Khalid tidak kecewa apalagi sakit hati. Sebab, ia berjuang bukan untuk Umar, bukan pula untuk komandan barunya Abu Ubaidah. Khalid berjuang untuk mendapat ridha Allah swt.
5. Keikhlasan ada ketika Anda mengutamakan keridhaan Allah daripada keridhaan manusia.
6. Ikhlas ada saat Anda cinta dan marah karena Allah.
Adalah ikhlas saat Anda menyatakan cinta dan benci, memberi atau menolak, ridha dan marah kepada seseorang atau sesuatu karena kecintaan Anda kepada Allah dan keinginan membela agamaNya, bukan untuk kepentingan pribadi Anda.
7. Keikhalasan hadir saat Anda sabar terhadap panjangnya jalan.
Keikhlasan Anda akan diuji oleh waktu. Sepanjang hidup Anda adalah ujian. Ketegaran Anda untuk menegakkan kalimatNya di muka bumi meski tahu jalannya sangat jauh, sementara hasilnya belum pasti dan kesulitan sudah di depan mata, amat sangat diuji.
8. Ikhlas ada saat Anda merasa gembira jika kawan Anda memiliki kelebihan.
Yang paling sulit adalah menerima orang lain memiliki kelebihan yang tidak kita miliki.
Sumber : Dakwatuna. com (Mochamad Bugi)
Selengkapnya...
Senin, 08 Februari 2010
Cara menjemput kematian dengan perlahan-lahan
Assalamu’alaikum wr.wb
Shahabatku yang baik, semoga pekan kedua dalam bulan kedua ini, mengantarkan kita bersama, menuju pintu gerbang istana kebaikan. Sehingga kitalah menjadi penghuninya. Karena hanya orang baik saja boleh masuk kedalamnya.
Seorang penyair mengingatkan, Janganlah engkau meninggal sebelum ajal menjemputmu. Pesannya barangkali sudah terbiasa kita ucapkan. Telinga sudah amat sering mendengar bunyi nada-nada bijak itu. Tapi, sungguh hebatnya anugerah fikiran, meskipun difahami. Walaupun sering didengar, terkadang tanpa disadari, menjadi zombi-zombi hidup amat sering kita jalani.
Maafkanlah atas kelancangan saya. Karena amat berani untuk mengeneralisasikan. Seolah-olah semua kita pernah menjadi zombi atau abadi. Karena saya yakin. Saat ini, telah ada diantara shahabat benar-benar telah menjadi manusia seutuhnya. Para sufi memberi nama, kondisi hudhur.
Berbicara mengenai ajal. Sebaik apapun persiapan kita menyambut kedatangannya. Ia pasti akan datang pada saat telah dijanjikan. Selupa apapun kita akan kepastian kehadirannya, hal ini menjadi wajib hukumnya. Bagi setiap yang bernyawa, akan dijemput oleh kematian.
Ada shahabat bertanya dengan lugas. Apa yang engkau khawatirkan? Pena telah diangkat. Ketetapan telah dituliskan. Qadha dan Qadar telah dipastikan.
Menjawab tiada yang kukhawatirkan, terkadang bentuk dari pembohongan diri. Lisan berbunyi; aku mengkhawatirkan masa depanku, bukti kelemahan iman. Astaqfirullah. Kami berlindung dan memohon ampun hanya kepadaMu ya Qhaffar.
Menariknya, terkadang hal-hal yang sebelum aku jalani. Aku hiasi ia dengan rasa khawatir itu, entah dimana posisinya? Saat aku melangkah, menjalani, dan melakukan ikhtiarku. Sehingga aku benar-benar memahami, kekhawatiran adalah langkah-langkah bunuh diri, tahapan-tahapan menjembut kematian yang amat perlahan-lahan.
Hal ini semakin membuatku bertanya-tanya dan mencari hakekat khawatir. Aku duduk terdiam, mencoba menyelami kembali, setiap pos-pos kehidupan yang pernah aku singgahi. Dari setiap episode kehidupan, aku menemukan benang merah kehidupan : Habis Gelap terbitlah terang. Almarhum Crisye dengan indah melantunkan, Badai pasti berlalu.
Rasa khawatir adalah hasil buah fikiran, bertujuan untuk memproteksi tubuh dari bahaya. Sehingga ia beri signal dengan gejala-gejala : keringat, perut perih, pandangan agak kabur, kepala senut-senut dan berbagai bentuk kreasi lainnya.
Jika memang demikian wujudnya. Bukankah ajakan-ajakan pejalan spiritual amat wajar untuk diikuti. Sadar.
Shahabat, khawatir adalah kejadian, masa, waktu dan ketetapan yang belum menghadiri kita. Ia sering kita beri judul dengan hal-hal yang kurang senang, tidak berkenan untuk kita terima. Tetapi, bukankah hal-hal yang amat kita senangi, kita berkenan atas kedatanganya, kita menkondisikan dengan kebahagiaan dan penuh harapan?
Seorang shahabat mengajak kita merenungi dan tinjau kembali sejenak. Bukankah ia wujud yang sama. Yaitu peristiwa yang akan datang? Bearti, ini adalah persepsi dan buah fikiran, yang dihasilkan oleh sudut pandang dan cara menyikapi akan masa depan, betul? Maafkan ia yang suka bertanya.
”Aku sebagaimana prasangka hambaKu”.
Jika memang demikian, anjuran berprasangka baik, ajakan berharap keindahan, dan seruan berkeinginan kebaikan. Pantaslah bila kita tempatkan pada tatanan kewajiban. Adakah sahabat yang merubah persepsi (cara menyikapi/cara memandang) sekarang?...
Bogor 7 Februari 2010
Selengkapnya...
Minggu, 07 Februari 2010
Adab Berdandan
ADAB BERDANDAN / BERHIAS
1. Disunnatkan memakai pakaian baru, bagus dan bersih. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kepada salah seorang shahabatnya di saat beliau melihatnya mengenakan pakaian jelek : “Apabila Allah mengaruniakan kepadamu harta, maka tampakkanlah bekas ni`mat dan kemurahan-Nya itu pada dirimu.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).
2. Pakaian harus menutup aurat, yaitu longgar tidak membentuk lekuk tubuh dan tebal tidak memperlihatkan apa yang ada di baliknya.
3. Pakaian laki-laki tidak boleh menyerupai pakaian perempuan atau sebaliknya. Karena hadits yang bersum-ber dari Ibnu Abbas Radhiallaahu ‘anhu ia menuturkan: “Rasulullah melaknat (mengutuk) kaum laki-laki yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.” (HR. Al-Bukhari).
Tasyabbuh atau penyerupaan itu bisa dalam bentuk pakaian ataupun lainnya.
4. Pakaian tidak merupakan pakaian show (untuk ketenaran), karena Rasulullah Radhiallaahu ‘anhu telah bersabda: “Barang siapa yang mengenakan pakaian ketenaran di dunia niscaya Allah akan mengenakan padanya pakaian kehinaan di hari Kiamat.” ( HR. Ahmad, dinilai hasan oleh Al-Albani).
5. Pakaian tidak boleh ada gambar makhluk yang bernyawa atau gambar salib, karena hadits yang bersumber dari Aisyah Radhiallaahu ‘anha menyatakan bahwasanya beliau berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membiarkan pakaian yang ada gambar salibnya melainkan Nabi menghapusnya”. (HR. Al-Bukhari dan Ahmad).
6. Laki-laki tidak boleh memakai emas dan kain sutera kecuali dalam keadaan terpaksa. Karena hadits yang bersumber dari Ali Radhiallaahu ‘anhu mengatakan, Sesungguhnya Nabi Allah Subhaanahu wa Ta’ala pernah membawa kain sutera di tangan kanannya dan emas di tangan kirinya, lalu beliau bersabda: Sesungguhnya dua jenis benda ini haram bagi kaum lelaki dariumatku”. (HR. Abu Daud dan dinilai shahih oleh Al-Albani).
7. Pakaian laki-laki tidak boleh panjang melebihi kedua mata kaki. Karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : “Apa yang berada di bawah kedua mata kaki dari kain itu di dalam neraka” (HR. Al-Bukhari).
8. Adapun perempuan, maka seharusnya pakaiannya menu-tup seluruh badannya, termasuk kedua kakinya.Adalah haram hukumnya orang yang menyeret (meng-gusur) pakaiannya karena sombong dan bangga diri. Sebab ada hadits yang menyatakan : “Allah tidak akan memperhatikan di hari Kiamat kelak kepada orang yang menyeret kainnya karena sombong”. (Muttafaq’alaih).
9. Disunnatkan mendahulukan bagian yang kanan di dalam berpakaian atau lainnya. Aisyah Radhiallaahu ‘anha di dalam haditsnya berkata: “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam suka bertayammun (memulai dengan yang kanan) di dalam segala perihalnya, ketika memakai sandal, menyisir rambut dan bersuci’. (Muttafaq’-alaih).
10. Disunnatkan kepada orang yang mengenakan pakaian baru membaca :“Segala puji bagi Allah yang telah menutupi aku dengan pakaian ini dan mengaruniakannya kepada-ku tanpa daya dan kekuatan dariku”. (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
11. Disunnatkan memakai pakaian berwarna putih, katrena hadits mengatakan: “Pakaialah yang berwarna putih dari pakaianmu, karena yang putih itu adalah yang terbaik dari pakaian kamu …” (HR. Ahmad dan dinilah shahih oleh Albani).
12. Disunnatkan menggunakan farfum bagi laki-laki dan perempuan, kecuali bila keduanya dalam keadaan berihram untuk haji ataupun umrah, atau jika perempuan itu sedang berihdad (berkabung) atas kematian suaminya, atau jika ia berada di suatu tempat yang ada laki-laki asing (bukan mahramnya), karena larangannya shahih.
13. Haram bagi perempuan memasang tato, menipiskan bulu alis, memotong gigi supaya cantik dan menyambung rambut (bersanggul). Karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya mengatakan: “Allah melaknat (mengutuk) wanita pemasang tato dan yang minta ditatoi, wanita yang menipiskan bulu alisnya dan yang meminta ditipiskan dan wanita yang meruncingkan giginya supaya kelihatan cantik, (mereka) mengubah ciptaan Allah”. Dan di dalam riwayat Imam Al-Bukhari disebutkan: “Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya”. (Muttafaq’alaih).
Selengkapnya...
Sabtu, 06 Februari 2010
Adab Buang Air Besar ( BAB )
Seorang muslim yang akan buang hajat ( BAB / BAK ) harus memperhatikan adab – adab yang ditetapkan dalam Islam dan dicontohkan oleh Rasulullo SAW , yaitu :
1. Tidak membawa atau mengenakan sesuatu yang bertuliskan lafadz Alloh
Dari Anas Bin Malik RA , ia berkata ,” Rasululloh SAW jika masuk ke tempat buang hajat , maka Beliau melepas cincinya.” ( cincin Raululloh SAW bertuliskan Muhammad Rasululloh ) HR. Abu Dawud , Tirmidzi , An Nasai , Ibnu Majah )
2. Menjauh dari manusia dan menghalangi diri dari pandangan manusia
Dari Jabir RA berkata ,” Sesungguhnya Nabi SAW jika hendak buang air besar maka Beliau SAW pergi atau berpindah agar tidak ada orang yang melihatnya.” ( HR. Abu Dawud )
3. Hendaknya membaca doa ( waktu masuk WC / ketika membuka baju )
4. Masuk dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan
5. Tidak mengangkat pakaiannya jika buang hajat di tempat terbuka
Dari Ibnu Umar RA , ia berkata bahwa ,” Nabi SAW jika ingin buang hajat , maka Beliau SAW tidak mengangkat kainnya sampai ketika ia dekat dengan tanah / jongkok.” ( HR. Abu Dawud , Tirmidzi )
6. Tidak menghadap kiblat atau membelakanginya
Dari Abu Ayyub Al Anshori RA , bahwa Nabi SAW bersabda ,” Jika kalian mendatangi tempat buang hajat , maka janganlah kalian menghadap kiblat dan jangan membelakanginya , baik buang air kecil ataupun buang air besar , akan tetapi hendklah kalian menghadap ke timur atau barat.”
Dari Abdullah Bin Umar RA , berkata ,”Aku mendatangi rumah saudara perempuanku Hafshoh dan aku melihat Rasululloh SAW jongkok karena sedang buang hajat dengan menghadap ke kota Syam dan membelakangi kiblat.” ( HR. Bukhori & Muslim )
Dari 2 hadits ini , ada beberapa pendapat :
· Beberapa ulama sepakat bahwa buang hajat dengan menghadap kiblat hukumnya haram
· Sebagian ulama berpendapat bahwa buang hajat dengan menghadap kiblat hukumnya hanya makruh
· Pendapat lainnya adalah bila di tempat terbuka tidak boleh dan jika di tempat tertutup tidak apa – apa
7. Tidak buang hajat di tempat umum , jalan , tempat berteduh , air yang tergenang , lubang
Dari Abu Hurairah RA , bahwa Rasululloh SAW bersabda ,” Takutlah kalian kepada Al La’aanin.” Mereka berkata ,” Apakakh La’aanin itu wahai Rasululloh ? Beliau menjawab ,” Orang – orang yang buang air di tempat orang – orang yang berjalan atau di tempat orang – orang berteduh.” ( HR. Muslim , Abu Dawud , Ibnu Majah )
Dari Abu Hurairah RA , bahwa Rasululloh SAW bersabda ,” Janganlah sekali – kali kalian kencing di dalam air yang tergenang , yang tidak mengalir kemudian mandi di dalamnya. ( HR. Bukhori & Muslim )
8. Tidak berbicara , menjawab salam atau menjawab adzan
Dari Ibnu Umar RA , ia berkata ,” Seorang laki – laki melewati Rasululloh SAW yang sedang buang air kecil , lalu ia member salam , maka Rasululloh SAW tidak menjawab salamnya.” ( HR. Muslim )
Dari Muhajir Bin Qunfudz , dia berkata ,” Saya bertemu dengan Nabi SAW , yg mana ketika itu Beliau buang air kecil , maka saya mengucapkan salam kepada Beliau. Tetapi teryata Beliau tidak menjawab salamku , sampai akhirnya Beliau berwudhu , baru menjawab. Setelah itu Beliau menyebutkan alasan kenapa Beliau melakukan itu. Beliau berkata ,” Saya tidak senang berdzikir kepada Alloh kecuali dalam keadaan suci.” ( HR. Abu Dawud )
9. Tidak buang hajat pada bak tempat mandinya
Rasululloh SAW bersabda ,” Janganlah seorang di antara kalian buang air kecil di tempat mandinya kemudian dia mandi di dalamnya.” ( HR. Muslim )
10. Tidak memegang kemaluannya dengan tangan kanan & jika cebok dengan tangan kiri
Dari Abu Qotadah RA , bahwa Rasululloh SAW bersabda ,” Jika seorang diantara kalian minum , maka janganlah ia bernafas di dalam gelasnya , dan jika mendatangi WC maka janganlah ia memegang kemaluannya dengan tangan kanannya dan janganlah ia cebok dengan tangan kanannya.” ( HR. Bukhori & Muslim )
11. Jika baru bangun tidur , jangan langsung mencelupkan tangannya ke dalam bak air
Dari Abu Hurairah RA , bahwa Nabi SAW bersabda ,” Jika salah seorang diantara kalian bangun tidur , maka janganlah ia mencelupkan tanganya ke dalam tempayan sebelum ia mencucinya sebanyak tiga kali , karena sesungguhnya ia tidak mengetahui dimana letak tangannya ketika tidur.” ( HR. Bukhori & Muslim )
12. Tidak boleh bersuci dengan kotoran kering atau tulang
13. Jika bersuci dengan batu
Rasululloh SAW bersabda ,” Barangsiapa yang beristinjak dengan batu , maka beristinjaklah dengan bilangan ganjil.” ( HR. Bukhori & Muslim )
14. Wajib menghilangkan kotoran yang menempel pada lobang kemaluan
15. Memercikkan air ke celananya dan berwudhu
Al Hakam Bin Sufyan RA , ia berkata ,” Rasululloh SAW jika selesai buang air kecil , Beliau berwudhu dan memercikkan air ke celananya.” ( HR. Abu Dawud )
16. Hendaknya menggosokkan tangan ketanah setelah bersuci
Dari Abu Hurairah RA ,ia berkata ,” Sesungguhnya Nabi SAW setelah buang hajat maka Beliau beristinjak ( dengan air ) dari sebuah bejana , lalu menggosok tangannya dengan tanah.” ( HR. Abu Dawud , Ibnu Majah )
17. Tidak berlama – lama di dalam tempat buang hajat.
TAMBAHAN SEPUTAR ADAB BUANG HAJAT.
1. Mandi / menghilangkan kotoran dengan air musta’mal ( air bekas bersuci ) tidak apa – apa
“ Beliau SAW pernah mandi dari air bekas mandi istrinya Maimunah RA.” ( HR. Muslim No. 323 / Haid / ukuran air yang tepat untuk mandi junub )
Dari Ibnu Abbas RA , ia berkata ,” Beberapa istri Rasululloh SAW sedang mandi di sebuah bejana , maka datanglah Rasululloh SAW dan mandi dari air bekas istri – istri tersebut. Maka salah seorang dari mereka berkata ,” Sesungguhnya aku ini sedang junub.” Beliau pun menjawab ,” Sesungguhnya air itu tidak junub.” ( HR. Ahmad , Abu Dawud , An Nasai )
2. Tingkatan dalam bersuci :
· Dengan batu kemudian di bilas dengan air
· Dengan air saja
· Dengan batu
Selengkapnya...

